(serius
bukan kisah tentang gue)
Ada si pria dan si wanita. Si wanita
adalah cinta pertama si pria. Si pria juga cinta pertama si wanita. Sayangnya hubungan
berakhir karena tidak direstui orang tua si pria. Si pria memutuskan menuruti
perintah orang tuanya. Si wanita mundur dan melanjutkan hidupnya dengan si orang
lain. Awalnya si wanita belum memiliki perasaan apapun terhadap si orang lain
itu, tetapi seiring berjalannya waktu, si wanita mulai menyukai dan
lama-kelamaan mencintai si orang lain tersebut.
Melihat si wanita sudah berpindah
hati, si pria tidak mau kalah dan melanjutkan juga hidupnya dengan si orang
baru. Si pria gagal. Kemudian melanjutkan dengan si orang baru lagi. Si pria
gagal lagi. Lalu melanjutkan dengan si orang baru lagi dan lagi. Si pria selalu
gagal. Akhirnya si pria membuat keputusan yang matang untuk mendapatkan cinta
pertamanya kembali. Berbagai cara ditempuh si pria untuk mendapatkan cintanya. Suatu
ketika terjadi percakapan:
Si Pria :
“Kau adalah cinta pertamaku. Aku masih sangat mencintaimu. Kau masih memiliki
ruang besar di hatiku. Sangat sulit bagiku
untuk melupakanmu. Aku selalu
memperjuangkan dirimu, Cintaku. Kumohon
kembalilah kepadaku.”
Si Wanita : “Cinta tak harus memiliki.”
Respon singkat si wanita menunjukkan bahwa
si wanita sudah memiliki si orang lain di hatinya, si wanita tidak mencintai si
pria lagi, dan si wanita meminta si pria untuk melupakannya. Respon singkat si
wanita “cinta tak harus memiliki” me-mentah-kan sekaligus membuat nihil pepatah
yang bunyinya “perjuangkanlah dan kejarlah cintamu sampai dapat”. Ya, bagaimana
mau dapat kalau yang diperjuangkan tidak cinta dan jika terus-terusan dikejar maka
terkesan memaksa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar